Benarkah TNI POLRI Tembak Warga Sipil?

PAPUA– Sudah dua minggu setelah kejadian penembakan kepada pekerja PT. Istaka Karya di distrik Mbua Papua yang menewaskan 19 pekerja.

Hingga saat ini telah diterjunkan tim investigasi dari Pemerintah dan TNI/Polri mengenai sebab permasalahan sebenarnya atas kejadian tersebut.

Salah satu yang menjadi sorotan utama saat ini adalah penemuan beberapa jenazah yang ditemukan di hutan di distrik Mbua. Menurut beberapa pihak jenazah yang ditemukan tersebut adalah warga sipil.

Danrem 172/PWY Kolonel Inf J. Binsar Parluhutan Sianipar saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut, mengatakan, belum tentu jenazah yang ditemukan tersebut adalah warga sipil tak bersalah.

“Saya mengatakan belum tentu itu warga sipil yang tak bersalah. Kalau mereka sudah membantu dan menjadi simpatisan KKSB, maka mereka sudah termasuk pihak yang mendukung dan menjadi anggota KKSB tersebut”, jelas Danrem.

TNI/Polri tahu aturan, tidak akan melakukan hal keji dengan menyasar warga sipil dan menembak mati mereka. Justru TNI/Polri melindungi warga sipil di Mbua. Faktanya malah pihak TNI/Polri hingga saat ini dalam menjalankan evakuasi mendapatkan berbagai serangan secara langsung dari pihak KKSB. Kalau dikatakan TNI/Polri membunuh warga sipil saya rasa itu tidak mungkin.
Kita lihat fakta dilapangan saat kejadian penyerangan pos Mbua yang telah menewaskan 1 anggota TNI atas nama Serda Handoko. Bahwasanya Pos TNI di Mbua diserang oleh KKSB dan simpatisannya pada tanggal 3 desember 2018 lalu.

Selanjutnya, anggota TNI yang berada di pos Mbua membalas tembakan hanya kearah datangnya tembakan. Mereka diserang menggunakan senapan api, tombak, batu dan panah. Hal ini dibuktikan dengan adanya bukti-bukti di TKP yang telah kami kumpulkan.

Selama penyerangan itu juga, anggota TNI hanya melaksanakan pertahanan semata di pos tanpa melakukan pengejaran kepada KKSB.
Kemungkinan besar jenazah yang ditemukan di hutan itu adalah anggota KKSB yang tewas akibat kontak langsung dengan TNI/Polri. Karena selama aparat berada di distrik Mbua hanya melakukan kontak senjata dengan kelompok KKSB saja dengan berusaha melindungi warga sipil. Kami juga tidak melakukan kontak yang berdekatan dengan pemukiman warga sehingga tidak mungkin ada korban jatuh dari warga sipil kecuali mereka (KKSB) yang menjadikan warga sipil sebagai tameng.

Hasil tim investigasi TNI/Polri di Mbua tidak menemukan bukti-bukti pelanggaran yang disangkakan ke pihak aparat dalam melaksanakan tugas evakuasi dan penanganan kelompok KKSB di distrik Mbua. Tidak ditemukan satupun bekas tembakan di dinding-dinding perumahan warga, juga tidak ditemukan satupun bekas tembakan pada dinding gereja yang terletak di dekat pos.

Mengenai isu tentang masyarakat yang kabur ke hutan, pihak TNI/Polri tidak melakukan pengejaran hingga masuk ke dalam hutan.

Semua pihak berharap pembangunan di Papua terus berjalan dan tidak terhenti karena gangguan dari kelompok-kelompok bersenjata. Untuk itu, mari bersama-sama mengawal pembangunan ini agar target pembangunan proyek infrastruktur khususnya trans papua dapat tercapai secara maksimal dan tepat waktu”, harap Danrem.

Senada dengan Danrem, Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Muhammad Aidi, menegaskan bahwa TNI tidak pernah melakukan penyerangan terhadap warga sipil.

“Justru kita yang selalu diserang”, katanya.
Aidi mengatakan bahwa aparat keamanan berkali-kali diserang kelompok bersenjata saat melakukan evakuasi di Kabupaten Nduga. Penyerangan sempat terjadi di bukit Kabo, Mbua, dan Yigi.

“Kalau ada korban, bisa jadi korbannya itu adalah pihak yang penyerang, bisa juga dari masyarakat yang jadi ekses dari terjadinya penyerangan tersebut,” ujarnya..
Tim gabungan TNI-Polri saat ini fokus pada pencarian empat korban penembakan yang hilang. Mereka diduga berhasil melarikan diri pada saat kejadian.

Sementara itu, untuk mencegah anggota KKSB bersembunyi dengan cara membaur bersama warga setempat, pihak TNI/Polri telah melakukan langkah antisipasi dengan segera mendata warga sipil di distrik Mbua.

“Kita pilah dan kita berikan himbauan agar masyarakat dapat memisahkan diri dari kelompok-kelompok tersebut. Mungkin setelah selesai evakuasi kita akan lakukan penindakan hukum untuk mengejar para pelaku. Kemudian kita akan lakukan rehabilitasi situasi”, ujar Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba saat dtemui.

Tolak TPN-OPM Di Nduga
Ketua Koordinator Gereja Kingmi Kabupaten Nduga Pendeta Nataniel Tabuni mengutuk keras tindakan penembakan yang dilakukan oleh KKSB di distrik Mbua Kabupaten Nduga.

Hal tersebut ia sampaikan dalam pertemuan dengan pihak terkait beberapa waktu lalu di distrik Mbua. Pihaknya membenarkan tentang penyerangan dan penembakan oleh KKSB di Distrik Mbua beberapa waktu lalu.

“Kami dengan tegas tak menerima apa yang telah dilakukan oleh mereka (KKSB). Anak-anak yang tidak bertanggung jawab dan menghambat pembangunan Kab. Nduga. Kami tidak mau, kami menolak TPN-OPM”, kata Nataniel.

Dijelaskan, Pos Mbua dari 755 disini kemarin hancur karena anak-anak TPN-OPM yang tidak bertanggung jawab. Mereka mulai melakukan tindak kejahatan di Mugi, terjadi lagi di kenyam, di yigi dan lanjut lagi ke pos di mbua ini. Semua mereka yang bertangung jawab.

“Setiap khotbah, saya sering menyampaikan untuk jangan membunuh, jangan mencuri dan jangan berzinah tetapi anak-anak ini melakukan itu semua, jadi saya mau mereka (TPN-OPM) berhenti”, katanya.

“Mereka (TPN-OPM) itu harus dihentikan, karena kita harus hidup bersama-sama seperti yang telah di ajarkan dalam ajaran Yesus Kristus. Mari kita bersama-sama tanpa membedakan orang papua ataupun pendatang untuk menikmati pembangunan yang sementara berjalan karena itu juga termasuk dari otonomi khusus yang menjadi prioritas pemerintah pusat untuk Papua”, katanya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *