Apresiasi Budaya, Dandim Ikuti Prosesi Upacara Adat Jamasan Tombak Kanjeng Kyai Upas

Tulungagung – Komandan Kodim 0807/Tulungagung Letkol Inf Wildan Bahtiar, S.I.P bersama Forkopimda Kabupaten Tulungagung mengikuti kegiatan prosesi Upacara Adat Jamasan Pusaka Tulungagung Tombak Kanjeng Kyai Upas Tahun 2019 yang dilaksanakan di Gedung Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi milik Pemkab Tulungagung Jl. Panglima Sudirman Kelurahan Kepatihan Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung Jawa Timur, Jumat (13/09/2019).

Keluarga Pringgokusumo adalah pemilik Tombak Kyai Upas, pusaka Kabupaten Tulungagung. Prosesi jamasan Tombak Kyai Upas berjalan dengan meriah. Warga dan undangan antusias menyaksikan pencucian senjata pusaka Kabupaten Tulungagung yang dilakukan di setiap bulan Muharram ini.

Pemerintah daerah diberikan mandat oleh ahli waris dari Keluarga Pringgokusumo pemilik Tombak Kyai Upas yang berujung menjadi agenda rutin kearifan lokal yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setiap tahun.

Ritual jamasan Tombak Kayi Upas ini dilakukan menggunakan sembilan air dari mata air atai nawa tirta yang diambil dari sejumlah penjuru Tulungagung.

Nowo tirto ini dikirab terlebih dahulu, dan diserahkan kepada pemangku amanah Kyai Upas yakni Bupati Tulungagung yang pada kesempatan ini oleh Plh. Bupati Tulungagung Ir Indra Fauzi MM untuk melakukan jamasan. Tiga dari sembilan mata air yang di ambil melambangkan wujud dari seekor naga yang di ambil dari belik atau mata air. Mata air yang keluar dari bebatuan disebut belik panguripan berarti kepala, belik puser berarti tubuh dan belik buntut berarti ekor.

Usai seserahan pusaka Tombak Kyai Upas dijamasi. Dipimpin oleh seorang penjamas pusaka yang membuka sarung pada ujung mata tombak kemudian dijamasi menggunakan air kembang setaman dan jeruk nipis. Usai penjamasan, pusaka tersebut ditutup kembali dan diikat diusung kembali ke tempat semula.

Komandan Kodim Tulungagung Letkol Inf Wildan Bahtiar, S.I.P memberikan apresiasi yang tinggi akan terselenggaranya kegiatan adat yang menjadi kearifan lokal di Kabupaten Tulungagung tersebut. Dandim berharap masyarakat Tulungagung dapat menjaga kearifan lokal seperti ini agar tetap membudaya dan mempromosikannya agar lebih dikenal kalayak ramai sehingga budaya tersebut tidak punah ditelan waktu dengan berbagai kecanggihan tekologi yang hadir di masa seperti saat ini.

“Kegiatan adat yang sakral seperti ini perlu terus dilestarikan agar tidak punah ditelan waktu dengan hadirnya kecangggihan teknologi.” tutup Dandim. (rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *